Krisis pendidikan karakter merupakan fenomena global yang tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara dengan sistem pendidikan modern. Fenomena ini ditandai dengan meningkatnya perilaku intoleransi, kekerasan verbal, perundungan (bullying), kurangnya empati sosial, hingga melemahnya etika akademik di lingkungan pendidikan.
Pendidikan yang terlalu berorientasi pada capaian akademik semata, seperti nilai, indeks prestasi, dan kompetensi teknis, sering kali mengesampingkan aspek pembentukan kepribadian dan moral peserta didik. Akibatnya, lahir generasi yang cerdas secara intelektual, namun rapuh dalam integritas, empati, dan tanggung jawab sosial.
Oleh karena itu, pendidikan karakter tidak lagi dapat dipandang sebagai pelengkap, melainkan sebagai fondasi utama dalam membentuk generasi unggul yang beradab, beretika, dan berorientasi pada kemanusiaan.
Pendidikan Karakter sebagai Pilar Peradaban Global
Secara universal, pendidikan karakter menekankan nilai-nilai dasar kemanusiaan yang dapat diterima oleh semua latar belakang agama, budaya, dan bangsa, antara lain:
* Integritas dan kejujuran
* Tanggung jawab moral
* Rasa hormat terhadap sesama
* Empati dan kepedulian sosial
* Disiplin dan kerja keras
* Anti kekerasan dan anti diskriminasi
* Etika komunikasi dan kolaborasi
Nilai-nilai ini tidak hanya membentuk individu yang kompeten, tetapi juga menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat, inklusif, dan produktif.
UNMAHA dan Komitmen terhadap Character Building
Universitas Mahakarya Asia (UNMAHA) menempatkan penguatan karakter sebagai bagian integral dari visi pendidikan yang holistik. UNMAHA tidak hanya fokus pada pencapaian akademik dan kompetensi profesional, namun juga membangun budaya kampus yang menjunjung tinggi nilai adab, etika, dan kemanusiaan.
Melalui pendekatan pendidikan berbasis nilai, UNMAHA mendorong terciptanya lingkungan kampus yang:
* Bebas dari bullying dan kekerasan dalam bentuk apa pun
* Menjunjung tinggi rasa saling menghargai
* Mendorong komunikasi yang beretika
* Mengedepankan kolaborasi, bukan kompetisi destruktif
* Menumbuhkan kepemimpinan yang humanis
UNMAHA memandang bahwa kampus adalah ruang pembentukan karakter masa depan bangsa, sehingga setiap mahasiswa diarahkan untuk menjadi pribadi yang berilmu sekaligus beradab.
Nilai-Nilai Karakter Mahasiswa Mahakarya
Sebagai landasan pembinaan moral dan perilaku mahasiswa, berikut nilai inti yang ditanamkan UNMAHA:
1. Mahakarya Beradab
Mahasiswa menjunjung tinggi sopan santun, etika komunikasi, dan menghormati dosen, tenaga kependidikan, serta sesama mahasiswa tanpa memandang latar belakang.
2. Anti-Bullying dan Anti-Diskriminasi
Setiap bentuk perundungan, baik verbal, fisik, maupun digital, ditolak secara tegas. Mahasiswa didorong menjadi pelopor lingkungan aman dan suportif.
3. Integritas Akademik
Menolak plagiarisme, kecurangan, dan segala bentuk pelanggaran etika akademik.
4. Empati dan Kepedulian Sosial
Memiliki kepekaan terhadap lingkungan sekitar dan siap berkontribusi untuk masyarakat.
5. Tanggung Jawab dan Profesionalisme
Menunjukkan sikap disiplin, konsisten, dan bertanggung jawab dalam setiap aktivitas akademik dan organisasi.
6. Kolaboratif dan Inklusif
Menghargai perbedaan dan membangun sinergi lintas budaya, agama, dan perspektif.
Pendidikan Karakter sebagai Solusi Jangka Panjang
Membangun karakter bukanlah proses instan. Dibutuhkan kesinambungan antara kurikulum, lingkungan kampus, peran dosen, kebijakan institusi, dan budaya organisasi. Pendekatan ini menjadikan pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga transformasi nilai.
UNMAHA mendorong budaya pembelajaran yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan manusia. Mahasiswa tidak hanya disiapkan untuk dunia kerja, tetapi juga untuk menjadi pemimpin yang berintegritas dan agen perubahan sosial.
Kesimpulan
Pendidikan karakter adalah investasi jangka panjang bagi peradaban. Dalam dunia yang semakin kompleks, generasi masa depan membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan akademik. Mereka memerlukan kompas moral yang kuat, etika sosial, dan kesadaran akan tanggung jawab kemanusiaan.
UNMAHA hadir sebagai institusi yang tidak hanya mencetak lulusan unggul secara kompetensi, tetapi juga membangun karakter yang beradab, beretika, dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan universal.
Melalui komitmen ini, UNMAHA menegaskan posisinya sebagai kampus yang peduli terhadap pembentukan karakter, lingkungan aman tanpa bullying, dan budaya akademik yang bermartabat.
Tuti Susilawati, S.Kom, M.M

